Rektor dan sivitas akademika UIN STS Jambi memperingati Hari Lahir Pancasila
Rektor beserta civitas akademika mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan
Pemasangan Kalung Guru Besar Prof. Dr. H. Su'aidi, MA., Ph.D.
Gedung Laboratorium Terpadu UIN STS Jambi
Peletakan Batu Pertama Pembangunan Laboratorium Terpadu
Rektor Terima SK UIN STS

 altKuliah Umum Mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Tahun 2011Dengan tema "Paradigma Integrasi-Interkoneksi dalam Studi Keislaman Kontemporer"Kuliah Umum ini berlangsung selama sehari di Gedung Auditorium Prof. Dr. Chatib Quzwain Simp. Sungai Duren Muaro Jambi.(20/9)


Setelah pembacaan kalam illahi dan sabutan dari ketua panitia selanjutnya sambutan sekaligus membuka secara resmi kuliah umum Fakultas Ushuluddin oleh Rektor yang diwakili oleh Pembantu Rektor I Dr. H. Hadri Hasan, MA. Dalam sambutanya beliau mengharapkan kepada seluruh mahasiswa hendaknya mengikuti kuliah umum dengan baik dan tertib, mendengar secara seksama, ambil point-point penting, karena ilmu itu tidak berhenti dan tidak ada batasannya, tidak mengenal tempat, tidak ada kata tua dan selalu bermanfaat sampai kapan pun, tuturnya.

Kuliah Umum ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Ushuluddin Dr. S. Sagap, M.Ag., para Pembantu Dekan I, II dan III, kabag kasubbag, para mahasiswa-mahasiswi serta civitas akademika Fakultas Ushuluddin. 


Pemberi materi kuliah umum Fakultas Ushuluddin kali ini adalah Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag beliau adalah salah satu dosen difakultas Ushuluddin. Materi yang diberikannya berjudul Paradigma Integrasi-Interkoneksi dalam Studi Keislaman Kontemporer. 


altAda apa dengan paradigma "Integrasi-Interkoneksi", bagaimana dengan paradigma lainnya, bila dihubungkan dengan studi ke-Islaman. Harus diakui kajian ke-Islaman yang berjalan selama ini belum mampu membentuk "cara berfikir" dan lebih lagi belum berdampak pada pembentukan praksis "prilaku sosial-keagamaan" hal ini terjadi karena kajian ke-Islaman selama ini masih terlalu sarat dengan muatan yang menitik beratkan "metode (the way to obtain data)", tetapi belum banyak diberi bobot dan diintervensi oleh "the way think" yang diperkaya dengan berbagai pendekatan (approach) dan perspektif.


Approach (pendekatan) dan kekayaan variasi perspektiflah yang sesungguhnya dapat mengasah akal pikiran dan memberikan bobot makna terhadap kumpulan data yang diperoleh dan simpulan-simpulan hasil kajian. Olah pikir (the way to think) ini pada gilirannya akan menawarkan pilihan-pilihan pola tindakan dan prilaku sosial-keagamaan yang dapat dipilih dengan pertimbangan rasional (dimensi axiologi ilmu pengetahuan).


Islam dilihat dari dengan sudut pandang ilmu pengetahuan bukanlah semata-mata bermuatan doktrin yang mapan dan kaku. Islam (selanjutnya disebut Agama) sebagai bagian dari hidup dan kehidupan umat manusia bersentuhan dengan berbagai aspek kehidupan yang lain, sehingga agama dalam perspektif ilmu pengetahuan tidak lagi bisa dilihat sebagai entitas yang berdiri sendiri terlepas dari entitas yang lain. berbagai gejala agama dan keagamaan dikalangan umat beragama, Islam khususnya, realitas obyektif yang harus dipahami secara akademik dan berdasarkan ragam disiplin. Pemahaman atas gejala-gejala agama itu hanya mungkin dilakukan melalui penelitian ilmiah atas persoalan-persoalan agama.


Secara epistemologis, paradigma interkoneksitas merupakan jawaban atau respon terhadap kesulitan-kesulitan yang dirasakan selama ini, yang diwariskan dan diteruskan selama berabad-abad dalam peradaban islam tentang adanya dikotomi pendidikan umum dan pendidikan agama. Secara aksiologis, paradigma interkoneksitas hendak menawarkan pandangan dunia (world view) manusia beragama dan ilmuan yang baru, yang lebih terbuka, mampu membuka dialog dan kerjasama, transparan, dapat dipertanggung-jawabkan secara publik dan berpandangan kedepan. Secara otologis, hubungan antar berbagai disiplin keilmuan menjadi semakin terbuka dan cair, meskipun blok-blok dan batas-batas wilayah antara budaya pendukung keilmuan agama yang bersumber pada teks-teks(Hadharah al-nas), dan budaya-budaya pendukung keilmuan "faktual-historisitas-empiris" yakni ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu kealaman (Hadharah al-Ilm) serta budaya pendukung keilmuan "etis-filosofis" (Hadharah al-Faksafah) masih tetap saja ada.


Hanya saja, cara berfikir dan sikap ilmuan yang membidangi dan menekuni ilmu-ilmu ini yang perlu berubah. Tegur dan saling sapa antara ketiganya didalam birokrasi pendidikan, baik pada level prodi, jurusan maupun fakultas dan lebih-lebih lagi dalam diri ilmuan, dosen, akademisi atau researchers, yang termanifestasikan dalam keanekaragaman perspektif yang digunakan untuk mengkaji dan menganalis persoalan, program penelitian, tatap muka perkuliahan, pengembangan kurikulum, silabi maupun proses dan prosedur perkuliahan serta evaluasi pembelajarannya menjadi sibghah (core values) yang harus dipegang teguh dan dikembangkan secara terus menerus oleh civitas akademika (IAIN terutama Fakultas Ushuluddin).


Layaknya persoalan kehidupan pada umumnya, kajian ke-Islaman membutuhkan kejelasan secara metodologis, dan karena dimensi-dimensi agama itu berkaitan dengan bidang lain, sosial, budaya, sejarah dan sebagainya, maka pendekatan disiplin-disiplin lain terhadap gejala agama amatlah diperlukan sebagai kerangka metodologis.


Penggunaan istilah paradigma dalam tulisan ini mengacu pada pengertian generik yang diberikan Thomas Kuhn "The Structure of Scientific Revolutions (1970)" Khun menggunakan istilah paradigma untuk banyak arti, seperti matriks disipliner, model atau pola berfikir dan pandangan dunia kaum ilmuan. Namun pengertian umum yang lebih banyak dipakai adalah mendefinisikan paradigma seperangkat asumsi-asumsi teoritis umum dan hukum-hukum serta tekhnik-tekhnik aplikasi yang dianut secara bersama oleh para anggota suatu komunitas ilmiah.


Paradigma "integrasi" diarahkan pada upaya meleburkan dan melumatkan yang satu kedalam yang lainnya, baik dengan cara meleburkan sisi "normatifitas-profanitas", atau sebaliknya membenamkan dan meniadakan seluruhnya sisi historisitas keberagaman islam kewilayah "normativitas-sakralitas" tanpa "reserve".


Maka ditawarkanlah paradigma "interkoneksitas" yang oleh Amin Abdullah kelihatan lebih modest (mampu mengukur kemampuan diri sendiri), humility (rendah hati) dan humanity (manusiawi).


Paradigma "interkoneksitas" ini berasumsi bahwa untuk memahami kompleksitas fenomena kehidupan yang dihadapi dan dijalani manusia, setiap bangunan keilmuan apapun, baik keilmuan agama (termasuk agama Islam dan agama yang lain), keilmuan sosial, humaniora, maupun kealaman tidak dapat berdiri sendiri. Begitu ilmu pengetahuan tertentu mengklaim dapat berdiri sendiri, merasa dapat menyelesaikan persoalan sendiri, maka self sufficiency ini cepat atau lambat akan berubah menjadi "narrowmindedness" untuk tidak menyebutnya "fanatisme" partikularitas disiplin keilmuan. Kerjasama, saling tegur-sapa, saling membutuhkan, saling koreksi dan saling keterhubungan antar disiplin keilmuan akan lebih dapat membantu manusia memahami kompleksitas kehidupan yang dijalaninya dan memecahkan persoalan yang dihadapinya.


Memang harus ada usaha yang serius dan terus menerus untuk melakukan pengembangan keilmuan islam ini searah dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Namun demikian pengembangan ilmu keislaman murni dan terapan juga tidak boleh dilupakan. Demikian pula pengembangan ilmu alam, ilmu sosial dan humaniora. Jika ini bisa dilakukan maka kelak dikemudian hari maka pengembangan ilmu keislaman yang memiliki kewibawaan akan terjadi.


Studi Islam integrasi-interkoneksi adalah kajian tentang ilmu-ilmu keislaman, baik okjek bahasan maupun orientasi metodologinya dan mengkaji salah satu bidang keilmuan dengan memanfaatkan bidang keilmuan lainnya serta melihat kesaling-terkaitan antar berbagai disiplin ilmu tersebut.

Additional information